Saturday, June 7, 2008

Muslimah Solehah




Di balik redup wajahmu
Sinar matamu
Paksi Jiwamu
Terbenam Nurani Solehah

Sebesar-besar
Nikmat Di dunia
Muslimah Solehah
Jelmaan Dirimu

Zikir langkahmu mengalunkan
Kebesaran-Nya
Berjihad menidakkan gelora
Nafsu yang bertaman

Pandanganmu
Menunduk dengan cahaya kebenaran
Suaramu
Bergema dengan lontaran Kalam Tuhan
Pendengaranmu
Menyusuk kalbu ilham Malaikat
Hela Nafasku
Seiring Udara Firdausi

Sempurnakanlah
Kesempurnaanmu
Dibawah takbir
kekuasaan raja hatimu

Engkaulah yang menukilkan
Kecantikan dirimu
Bukanlah pada wajah mulus itu
Bukanlah pada lenggok busanamu
Bukanlah pada gemersik suaramu
Bukanlah pada pandangan makhluk

Engkau juga yang menukilkan
Kecantikanmu
Adalah pada pandangan Rabbani
Yang engkau sendiri tahu
itulah sebenar-benar
Kecantikan hakiki
termaktub
Bagi dirimu

Muslimah Solehah
Engkaulah bidadari jelmaan syurga
Seringkali kau menafikannya
Kerna malu kepada dunia
persinggahan mu

IbnuRaman - UIAM

Friday, June 6, 2008

Lihatlah!






Dari mata yang melihat
Diatas apa yang kau lihat
Dari cahaya yang terpancar
Dari Gelap yang Suram

Apa Yang Kau Lihat
atas dasar mata mu
atas dasar apa yang kau katakan
kau telah melihatnya
atas apa yang kau rasa
kau melihatnya
atas suara yang mengatakan
kau sememangnya telah melihat

Apa saja yang kau lihat!

Lihatlah sepuasnya
Jika itu hikmat matamu
Namun benarkah kau puas
sepuas-puasnya
melihat permandangan itu

Lihatlah
kau tidak melihat semuanya
Atas dasar apa yang kau katakan
hanya mata yang mampu melihat
atas dasar apa?

Matamu melihat
Hatimu melihat
lihatlah kedalam hati
atas dasar matamu melihat
lihatlah kedasar nya

Lihatlah kedasar kalam
ke lubuk sanubari yang telus
kau tidak melihat semuanya
Tegakkan rohmu
serukan imanmu
lihatlah

Lihatlah semuanya...

Adakah engkau benar-benar melihat?

ibnu Raman
-Petaling Jaya 2008

Thursday, May 22, 2008

Pattani Darussalam








Berdiri di tanah yang masih basah
Merah
Bertuahnya bumimu
Makmur

Benih-benih sufi dan sufiah
Lahir disini
Mengembangkan Jihad
Yang Tiada mati

Kehidupan serambi Islami
Muncul pada dedaun ketataan
Menunduk di bawah cahaya gemilang
Menjulang ke pucuk harapan

Bumimu tidak pernah dijajah
Bumimu masih ada disitu
Tiada kelam dari jajaran dunia
Tidak hilang melayu disana

Yang dijajah adalah iman
Digunggah janji duniawi
Dikhianati sesama sendiri
Demi hati yang karat sendiri

Bertebaranlah
Warisan bumi Pattani
Ke pelusuk Alam Ilahi
Mencipta kegemilangan disana
Menyuntik semangat Islami
Menzahirkan Benih-benih Ukhwah

Betapa pesantrenmu
Baba yang sufi itu
Tasbih Di jendela itu
Adalah hartamu
Bumi yang bertuah
Bumi yang Sama

IbnuRaman - TanjungMas , Narathiwat

Cinta yang Cinta




Semarak jiwa membakar perasaan

Membara membakar asap kepiluan

Sedang angin cinta sentiasa bertiup

Melayangkan kenangan yang hampir pupus

Menanam kesetiaan ke dasar kebencian

Sedang telah kulempar ke dasar kejujuran

Jauh dilubuk cinta yang merana

Tidakku ingin menjadi bunga

Jika kau kumbang yang menghisap madu

Bukan lebah seribu penawar

Yang membawa berita baik pada

Sejuzuk kesakitan

Biarlah aku menjadi akar

Menghidupkan sebatang kalbu yang kian mati

Menjulang pucuk ke puncak ketenangan

Menunaskan sekucil harapan

Membuahkan setandan semangat

Desir Alam membisikkan kalimat

Terngiang-ngiang di cuping kesedaran

Mana dapat kita hidup

Jika tiada cinta yang hidup

Pada diri kita sendiri

Mana dapat kubahagikan cinta

Jika tiada cinta yang hidup

Pada diri kita sendiri

Cinta pada diri sendiri

Yang hadir dari Cinta-Nya

Kalam Pena :IbnuRaman
Langkawi 28 Ogos 2000

Telahan Cinta


Dalam kemesraan dan keriuhan manusia

Bungkam kasih menanti cahaya

Menanti sinar celahan rimbunan cinta

Moga menyusuk kolam hati yang sayu

Satu yang mengesankan jiwa

Ada satu tetapi terakhir

Menyelongkar khazanah kerinduan

Pada perasaan yang ku jadikan pusaka kenangan

Menerjah akal waras ku

Gapaian cinta minta disambut

Menjelma entah tiba-tiba

Tanpa diundang atau dijemput

Yang kurindukan sebenarnya apa yang tidak kutinggalkan

Yang kupinta sebenarnya apa yang tidak kuinginkan

Putaran masa ligat mengatur waktu

Telahan Isythikarah membasahi sujud

Sekadar pilihan kekal abadi

Tiada lagi yang mampu kunukilkan

Pada wajah yang berseru itu

Dalam keraian cinta mu

Tidak diundang kalbu ku

Untuk kemari

Namun aku perlukan ruang

Sekadar pilihan kekal abadi

Tiada lagi mampu kunukilkan

Pada wajah yang berseru itu

Pulanglah ke tempat asalmu

Ke pulau harapan………

IbnuRaman

Shah Alam , Tanggal 13 Purnama kedelapan , 2007

Sya’ir Masyhur Karangan Al-Habib Al-Qutub




Bertakwalah kepada Allah pada hal rahsia dan terang

Bersihkan hatimu dari penyakit batin yang menyerang

Perangilah hawa nafsu yang hanya bertujuan
Mengumpul harta untuk dunia yang penuh ujian

Jika engkau reda dengan takdir, nescaya hidup bahagia

Jika tidak reda dengannya,nescaya engkau hidup merana.

Bersahabatlah dengan orang baik, ahli ilmu dan hidayat

Jangan lupa mengingati hal kubur dan kafan.

Jauhilah dan jangan berteman dengan orang yang jahat.

Bersembahyang dengan hati khushuk jauh dari kelalaian
Dunia ini bukanlah rumah yang berkekalan

Ia hanyalah jalan untuk menuju ke watan.

Rumah yang kekal adalah syurga bagi orang yang taat

Neraka bagi orang yang derhaka (hendaklah ingat).

Liputi Ya Allah akan kami dengan belas kasihan
Peliharakanlah, selamatkan kamidari kemarau dan kesesatan.

Berilah taufik aman damai dan hidayat

Kepada jalan Nabi Muhammad pemimpin umat.

Selawat Allah dan salamnya yang berkekalan

Di atas Nabi Muhammad hingga akhir zaman.

Keluarga, sahabat dan tabian juga demikian

Dengan berkat mereka dipohon keselamatan.




Kekasih Gelapmu



Kekasih Gelapmu

Satu yang mengesankan
bila mendepak dada

yang hijau kau sangka rimbunan nikmat

yang merah kau sangka panahan bala
Sedang warna putih kau titipkan noda

Hela nafasmu yang mendengus
meratah nafsu yang serakah

Sedang akalkmu tiada seimbang

Menjamah perasaan tiada ketuhanan

Sedang setiap zarah yang kau hela
bukan boleh engkau ciptakan
malahan darah yang mengalir
azimat tuhan tiada terhingga

Nikmat itu bagimu kemenangan nafsu
Yang tiada henti tiada akhirnya
lega sesaat derita selamanya

Tidak terfikir disaat itu

Bagimu itu kehendak dirimu

Tiada jalinan dengan yang lain
Ya...Itu adalah kehendakmu
Tiada kaitan dengan yang lain


Dosa bagimu barangan enteng

Pahala bagimu barangan dagangan


Namun Aku Percaya...

Jauh disudut hati engkau menyesali

Namun tidak terdaya

Nikmat itu dihidangkan jelas

Sehingga engkau lemas

Dan kau ulangi kelemasan itu

Demi nikmat yang sementara

Demi Hikmat yang meletihkan

Dan kau ulangi kelemasan itu


Puncanya engkau melayan

Puncanya engkau melawan

Puncanya ada tawaran

Puncanya ada permintaan


Ada yang kau tidak rela

Namun rela datang
sendiri
Engkau sedari
Setelah
Kau ulangi kelemasan itu

Lalu...

Engkau bertanya

Adakah ada ubatnya

Dimana ada jalannya

Agar kelemasan itu
Tiada lagi bertandang?

Aku bukanlah sufi

Atas soalan entengmu itu

Tiada ubatnya
kerna kau tiada berpenyakit

Muhasabahlah dengan dirimu
Lancarkan api pada tanganmu

Jika kesakitan yang kau rasai

Itu hanyalah api dunia

Sesejuk 7 kali ganda
Api akhirat

Bersubuhkan tanpa henti

40 hari
dengan khusyuknya
Dan Bersambungan
Selama Engkau masih
Bernafas

Berdirimu merenung satu titik
Rukukmu merenung hujung kaki

Sujudmu Merenung hujung hidung

Tahyatmu merenung satu titik

Itu bukan ubatmu

itu kewajipanmu


-Ibnu Raman (Shah Alam) May 2008

Hamzah Fansuri


Salam,,,

Izinkan ana meminjam kalam hamzah fanshuri sebagai pembuka syair dan baginda adalah pencetus semangat ana melahirkan blog ini.Untuk panduan, bukan semua syair yang dinukilkan adalah ilham ana.Ada juga syair pujangga dari penghulu yang belum kita kenali

Syair Perahu - Hamzah Fansuri


Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.

“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah

Syair dan Jiwa


Assalamualikum... Ukhti dan akhi

Kadang kala ada alunan halus didalam sanubari ana yang bermain bersama kalimat-kalimat yang merangsangkan minda.Ada yang ana dapat coretkan pada buku usang dan ada yang hilang dari pandangan.Semuanya bermula dari pengalaman harian tentang kehidupan dan kehidupan masyarakat sekeliling.Ana bukanlah pujangga dan bukan juga penyalak bukit.Diri ana ialah penagih sezarah ilmu yang dititiskan dari selaut kalam.

Izinkan ana menukilkan kalam didalam blog ini sebagai pereda kesulitan ayat-ayat cinta yang menari didalam keributan minda.

Salam Ukhwah..Allah Yubarik Fik